Negeri Pemakan Bangkai Itu Ada! (bag-1, cont.)

Peringatan penulis: jangan membaca artikel ini sebelum makan, saat tengah makan, ataupun sesaat setelah makan. Risiko mengabaikan peringatan ini ditanggung pembaca. ^_^

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman fiktif. Waktu itu, setelah menikah, Saya dan Istri berkesempatan berkunjung beberapa waktu di sebuah negeri di bagian lain bumi ini. Saya mengamati kehidupan dan cara hidup orang-orang di negeri tersebut. Ada rasa takjub, ada rasa aneh. Banyak hal baru yang saya dapat di sana.

Negeri Indah Itu

Kami memutuskan berbulan madu ke sana, karena informasi yang kami dapat tentang negeri itu sangat menarik hati. Negeri itu merupakan negeri Kepulauan yang masih hijau. Letaknya tertebar di Samudera Pasifik. Tetapi entah mengapa, negeri ini tidak dimasukkan dalam wilayah Oceania. Karena letaknya agak jauh lebih ke utara daripada Oceania. Rupanya informasi yang minim tentang keberadaan negeri itu membuat tidak banyak berita yang mengabarkan. Kami sendiri merasa beruntung mendapat info ini setelah mendapat referensi dari seorang teman.

Kami membawa barang bawaan cukup banyak karena berencana liburan selama 2 pekan. Perjalanan ke Negeri tersebut cukup jauh, sehingga kami ngeteng (ganti-ganti pesawat). Dari Soekarno-Hatta, tujuan kami ke Manila. Setelah terbang selama 6 jam, sampailah kami di Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino. Dari sana, esok paginya kami langsung terbang lagi menuju Guam. Sepuluh jam kemudian, karena cuaca kurang bagus, sampailah kami di Won Pat Guam International Airport, Guam. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan pesawat-pesawat perintis yang hanya berisi segelintir orang. Pesawat ngetem layaknya angkot, sehingga menunggu jumlah penumpang. Ketika dalam hitung-hitungan pilot jumlah penumpang sudah melebihi BEP (Break Event Point) terhadap cost-nya, terbanglah pesawat itu.

Pengalaman menggunakan pesawat perintis sungguh mendebarkan. Kestabilan pesawat jauh berbeda dengan pesawat komersiil seperti Boeing. Saya dan Istri spontan erat berpegang tangan dan berdzikir. Pesawat ini melewati banyak pulau yang terhampar di Pasific. Sampai akhirnya mendaratlah kami Nadi International Airport, wilayah teritorial Kepulauan Fiji. Dari sini, sudah ngetem pesawat perintis lain, sehingga ketika kami datang, pesawat langsung berangkat. Tujuan kali ini adalah Marshall Island. Kami kemudian mendarat di Majuro International Airport, rupanya inilah terakhir kali pesawat tersedia. Perjalanan selanjutnya hanya bisa dicapai dengan kapal (boat).

Mungkin sekitar 7 jam perjalanan dengan boat, sehingga hampir pucat muka kami mabuk laut. Tapi bersyukurlah sampai di dermaga pantai negeri yang memang indah tersebut.

Pantai Penyambut Tamu

Subhanalloh….kami tak bisa berkata-kata. Pantai di sini indah sekali. Harmoninya sangat terasa. Sebagian turis dalam jumlah yang tidak banyak sedang surfing, berpadu dengan anak-anak lokal yang sedang tertawa bermain bola di pantai. Agak di ujung pantai, kami melihat panen ikan yang baru saja dibawa pulang oleh nelayan.

Nyiur yang melambai seakan mempunyai warna hijau kuat yang benar-benar membius kita untuk segera mendekat. Saya dan istri tak kuasa menolaknya. Setelah memastikan bahwa barang bawaan dibawa ke hotel terdekat, segeralah kami berteduh di bawah nyiur tadi. Sambil membeli koran harian Negeri Ini, kami mencoba menggali kabar-kabar terkini di sini.

Puas dengan suasana pantai, kami melanjutkan dengan berjalan-jalan ke beberapa plateu yang terkenal keindahannya. Sungguh merupakan pengalaman tidak terlupakan. Puncak tertinggi plateu tersebut dapat ditempuh dengan mobil jeep yang kami sewa. Dari situ, benar-benar terhampar luas anugerah Tuhan. Dari pulau yang menjadi pusat kehidupan negeri ini, dapat dipandang dengan kasat mata, betapa kekayaan alam negeri ini tak terbantahkan. Kami juga heran bagaimana bisa hal ini tidak terekspose oleh dunia internasional.

Masih dari puncak bukit, kami melihat berbagai macam kekayaan alam yang sedang digali. Dari pulau sebelah utara, terkenal dengan tambang aspal kualitas wahid. Di sebelah timur pulau utama ini, aktivitas pertambangan sangat sibuk. Dari info yang kami terima, inilah penghasil emas yang tiada habisnya. Dengan jumlah cadangan emas diperkirakan ribuan juta ton metrik, maka (seharusnya) negeri ini akan makmur sampai dengan 70 turunan.

Tibalah waktu makan malam. Atas referensi beberapa orang yang kami temui di jalan, istri menyarankan agar kami makan malam di restoran yang memang terkenal paling enak di sini.

Tata ruang restoran sungguh cantik. Begitu masuk, kami langsung merasa relaks, dan semua rasa capek setelah perjalanan jauh menguap. Kami memang agak awal datang sebelum ramai. Karena katanya, kalau waktu makan malam benar-benar tiba, sangat susah mencari tempat duduk di restoran ini.

How is your day, Sir and Madam! Welcome to our restaurant.” seorang pelayan yang ramah menyapa kami dalam bahasa Inggris yang cukup baik sambil memberikan tempat duduk yang kosong.

Yes, I would like to have our dinner at your restaurant.” kataku.

That would be our pleasure to serve you.” kata pelayan dengan sangat sopan, “Would you like to see our food list?” sambungnya.

Begitu kami disodori menu, kami berdua terperangah! Tulisan yang ada dalam menu sangat sulit kami mengerti. Beberapa menu–yang sempat kami baca–adalah: Sate Bangkai Babi Super, Ayam Bangkai Bakar Spesial, serta semacam tongseng dengan nama “Sengtong Bangkai Kambing Tauge”. Itu yang sempat kami baca. Detik selanjutnya kami langsung kabur ke hotel tanpa berpamitan. Perut kami merasa mual.

Are you ready to order Sir and Madam?” pelayan setengah berteriak tanpa kami hiraukan.

Sampai rumah, istri akhirnya cukup dengan memasak mie instant yang kami bawa. Cukuplah untuk mengganjal perut sampai esok pagi.

…………………………………………………………….

Pagi harinya kami sudah merasa segar. Dan berencana keluar mengelilingi kota. Seperti bermimpi tentang kejadian semalam, kami tidak berusaha membahasnya lagi. Kami baca koran hari ini, sepertinya tidak ada peristiwa yang cukup menarik. Justru ini yang kami inginkan. Kami hanya ingin menikmati keseharian penduduk dan kehidupan di sini. Beranjaklah kami keluar kamar dengan beberapa perlengkapan yang menurut kami cukup penting dibawa saat berpetualang.

Begitu melewati tetangga kamar, kami melihat pemandangan yang sangat menjijikkan. Orang tersebut, beserta (entah) istrinya, sedang sarapan sebuah bangkai! Entah itu apa, kemungkinan tikus kecil tanpa dimasak. Bahkan baunya sangat menyengat. Dipenuhi dengan lalat sebesar tawon kecil, serta puluhan belatung warna putih yang menggeliat. Nikmat sekali mereka melahapnya. Hii…What The….!!!

Tikus Sebelum Disantap Untuk Sarapan

Masih bergidik, kami tetap meneruskan niat semula, keliling kota. Tetapi lagi-lagi kami beristighfar menyaksikan semua yang ada. Sepanjang jalan istri menahan agar tidak muntah. Mendadak semua yang kami saksikan begitu menjijikkan. Di sebuah persimpangan, kami berhenti karena lampu merah. Namun, di sisi jalan, kami lihat orang berkerumun, spontan saya tanya ke orang apa yang terjadi? Dijawab kemudian oleh salah seorang ibu yang paling dekat dengan mobil saya, “Ada seorang Saudara kami yang baru mati kecelakaan. Dan kami sekarang sedang berebut untuk memakannya.”…Hoeeekkkk….

Perilaku Gila yang Menjijikkan

Sebenarnya apa yang terjadi?
Di mana kami berada?
Mengapa semua seperti ini?
—bersambung—
Lanjut ke bagian-2 ada di sini.

gambar-gambar hanya ilustrasi
sumber: kaskus.us, alfi-sahri-aja.blogspot.com, wempi.nokspi.com, wikiberita.net 

[Abi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Negeri Pemakan Bangkai Itu Ada! (bag-1, cont.)

  1. bundamahes says:

    paaaaaaaaas banget bacanya setelah sarapan >.<

    *mual seketika

  2. *serius banget saya bacanya…..

    dan harus tarik nafas, karena bersambung…… 🙂

    emang ada ya yang seperti itu,, mengerikan sekali

  3. akhnayzz says:

    lihat foto terakhir rasanya ngeri amat,,
    amat saja tidak sengeri itu,,
    hehehe..

  4. Amama Ali says:

    alhamdulillah udah sarapan
    wahh klo belum bisa gak kuat lihat gambar terakhir
    salam

  5. Batavusqu says:

    Salam Takzim
    Negeri yang mempesona namun mengerikan tradisinya memakan bangkai manusia hiiii
    Salam Takzim Batavusqu

  6. sedjatee says:

    agak mempercepat bacaan
    langsung menuju kolom komentar aja

    sedj

  7. vittayuni says:

    yah bersambung… anti klimaks deh…
    Oke, menu lunch hari ini sayuran, for sure 😀

  8. novita says:

    iwan n nurul….aku gek meh maem siang iki…hiks….

  9. Fonega says:

    cuma cerita doank kan 😮

  10. saptriyawati says:

    sebenarnya negeri ini indah,, tapi v kagak nahan melihat gambar tikusnya,ini yang membuat makin jijik 😦

    Btw link nya dah v pasang tu mas di blog evi 😀

  11. Darks says:

    zzz komentarnya aneh jadi percaya gitu padahal sebelumnya kan sudah di jelaskan bahwa :
    Saya ingin menceritakan sebuah “PENGALAMAN FIKTIF” ?? Fiktif itu adalah Tidak Benar Terjadi/Karangan Belaka …

  12. Muhammady says:

    KAFIRNYA ORANG-ORANG YANG MEMAKAN KEDUA ORANG TUA MEREKA

    Tanya:
    Di dekat Kalimantan ada suatu pulau, penduduknya memiliki adat tersendiri, bila orang tua mereka sudah lanjut usia, sebelum meninggal mereka mengadakan acara besar-besaran, seluruh anak cucu dari orang tua tersebut berkumpul lalu mereka menyembelih orang tua mereka yang sudah lanjut usia tersebut, setelah itu mereka memasaknya lalu mereka makan bersama-sama, mereka meyakini bahwa daging dan roh orang tua mereka itu akan menyatu dengan tubuh-tubuh mereka, yang kemudian mereka akan lahirkan kembali.
    Apakah hukum mereka ini?.

    Jawab:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Tidak diragukan lagi bahwa mereka telah kafir dengan kekafiran yang nyata:

    Pertama:
    Menghalalkan membunuh orang tua mereka dan sekaligus menghalalkan memakan jenazah orang tua mereka, Alloh Ta’ala berkata:

    قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الأخر، ولا يحرمون ما حرم الله ورسوله، ولا يدينون دين الحق

    “Perangilah oleh kalian orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak pula (beriman) kepada hari akhir, tidak pula mengharomkan apa-apa yang telah Alloh dan Rosul-Nya haromkan, serta tidak pula beragama dengan agama yang haq”.

    Kedua:
    Adanya keyakinan kufur, yaitu keyakinan bahwa roh orang yang sudah mati menyatu dengan orang yang masih hidup, yang nantinya akan menolong mereka Alloh Ta’ala berkata:

    أفحسب الذين كفروا أن يتخذوا عبادي من دوني أولياء

    “Apakah orang-orang yang telah kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai wali-wali (penolong-penolong) selain-Ku”.

    Mereka itu lebih kafir dari pada kaum musyrikin Arob di zaman Nab Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (12 Dzulqo’dah 1435).

  13. pencinta komik says:

    Muntah aku………..😧

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s