Sebuah Fragmen di Stasiun Bekasi

Stasiun Bekasi

Adalah tempat yang sangat saya akrabi sejak kecil.  Sebab, saya suka sekali dengan kereta api. Sebenarnya bukan karena suka saja sih, kereta api, membuat hidup saya lebih mudah. Sarana angkutan yang cepat dan murah. Kalau dihitung-hitung hampir tiap hari semenjak lulus SMA saya naik kereta api. Hmmh…tenggat waktu yang sedemikian panjang.

Stasiun… mungkin sama dengan definisi konotasi dan denotasi, kata ini menurut saya punya citra afeksi tersendiri. Sering digunakan sebagai tempat yang punya rasa tersendiri. Ada yang menggunakannya sebagai tempat melepas kekasih. Atau.. bahkan ada yang lebih tragis, merupakan tempat menyambung hidup.

Seperti kemarin, entah untuk yang keberapa kali, petugas di sana melakukan “tugas”nya bernama penertiban. Yah, seperti yang saya bilang tadi, banyak fragmen hidup di sana. Termasuk suatu ketika, ada seorang anak kecil, namanya Nurul (sama dengan nama saya!), mungkin hidupnya tak lebih beruntung dari saya (sekilas). Anak itu usianya baru genap 11 tahun, berjualan keripik pisang di stasiun (saya sekeluarga suka ngemil, jadi saya sering beli keripik pisang di tempat Nurul). Nurul jualan tidak sendirian. Ditemani adiknya__yang sayang nya saya cuma tau dipanggil dedek aja, gak tau nama panjangnya. Setiap saya pulang kantor, mereka berdua berdiri di samping dagangannya sambil meneriakan keripik pisang yang mereka jual, yang harganya Rp. 5000,- saja.

Ilustrasi: Nurul Kecil

Ilustrasi: Nurul Kecil

Saya suka kasian kalo melihat mereka. Mereka ternyata jualan di stasiun itu mulai dari jam 16.00-22.00, setelah mereka sekolah dan les, sampai kereta terakhir tiba.

Rentang waktu yang panjang untuk anak seusia itu bekerja. Hmmh.. miris.. seharusnya mereka tengah bermain, atau baca komik seperti hobi saya waktu kecil, atau berangkat ke TPA untuk mengaji.

Setelah beberapa kali tegur sapa saya memberanikan diri mengajak mereka ngobrol, dan sampai akhirnya saya janjian bertemu mereka malam ini, saya bilang:

“Nanti malam tunggu kakak ya, kakak bawa buku banyak, kamu tunggu sini saja.”

Dengan wajah yang gak bisa saya lukiskan mereka hanya menunduk malu-malu mengiyakan.

Ya hari itu, saya bawa beberapa buku dan Majalah Bobo, karena pagi mereka belum jualan saya bawa semua buku itu ke kantor untuk diserahkan malam harinya.

Tapi.. hmh.. saya cukup kaget hari itu, saya baca di sebuah situs online ada penertiban pedagang besar-besaran di stasiun bekasi dan sampai ricuh. Saya sedih banget… bagaimana ya Nurul sama adeknya…semoga nanti malam bisa ketemu…

Pulang kantor, ketika KRL yang saya tumpangi berhenti, seperti yang saya duga, mereka semua tidak ada!

Tiang tempat Nurul dan adiknya jualan kosong. Ada sisa plastik yang terinjak-injak di sana, dan ada beberapa petugas hilir mudik. Seolah menjelaskan apa yang terjadi pagi tadi..

Hmmh… gak tau perasaan saya seketika kebas,, gak bisa digambarkan sedih banget pokoknya.

Mungkin keberadaan pedagang-pedagang itu bikin tidak rapih, tidak nyaman, tapi kenapa hanya untuk sebuah kenyamanan mungkin saja harus ada hidup yang terkorbankan?

Dan saya sedih, saya mungkin antagonis di sana, mungkin PT KAI melakukan penertiban itu untuk kenyamanan kami para pengguna jasa, dan ternyata harus melibas hidup beberapa dari kami yang sesungguhnya sama, hanya mencari rezeki.

Saya jadi ingat, bapak tua yang mengemis tiap pagi bersama istrinya yang lumpuh, atau sekeluarga yang mengamen di pintu masuk stasiun menyanyikan lagu Qasidah, dan wajah Nurul serta adiknya yang selalu semangat setiap ada kereta yang berhenti.

Hmmh… saya sesak dengan ini semua, kasihan, saya tidak tau ke mana mereka sekarang. Pun mungkin saya tidak berkontribusi nyata dengan memberikan solusi yang realistis. Tapi yang jelas, tidak mungkin kan semua orang cari rezeki dengan cara kerja di kantor dan berseragam.

Yah sore ini saya berharap, Nurul menunggu saya di tiang itu, semoga saya ketemu dia sore ini.

Nb: Nurul, kita ketemu yah,, kakak bawa buku banyak.

sumber gambar : semboyan35.com, firdauzi.wordpress.com
.
[Ummi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Sebuah Fragmen di Stasiun Bekasi

  1. Penguin says:

    lagi pengen nulis soal penertiban, setelah baca ini kok jadi ragu ya….
    cerita yang mengharukan kakak

  2. Anita says:

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  3. obat penyakit tumor ganas
    semoga sukses selalu webnya artikelnya sangat bermanfaat

  4. terima kasih banyak sudah berbagi info

  5. Get high quality translation for various languages in our site including experienced interpreter.

  6. obat alergi says:

    info yang sangat menarik semoga menjadi ide yang positif

  7. informasi yang sangat baik !!!!!!

  8. atmokanjeng says:

    tangan kita terlalu kecil barangkali untuk merangkul mereka
    tangan kita terlalu lemah untuk menolong, membantu
    dan bahkan air mata kita terlalu naif untuk diri kita sendiri
    bisa melihat menyaksikan tanpa bisa berbuat menolong
    betapa lemahnya kita…

    postingan yang indah
    Assalamu’alaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s