Negeri Pemakan Bangkai Itu Ada! (bag-2, selesai)

—cerita sebelumnya baca di sini
Peringatan penulis: jangan membaca artikel tersebut sebelum makan, saat tengah makan, ataupun sesaat setelah makan. Risiko mengabaikan peringatan ini ditanggung pembaca. ^_^

Perjalanan tetap kami lanjutkan. Kami menuju pusat kota. Jalan-jalan sudah sangat modern. Banyak jalan layang. Gedung-gedung tinggi menghiasi. Cukup maju juga peradaban di sini. Dan semua terlihat telah disusun rapi. Sungguh tata kota yang indah. Tiba-tiba kami melihat ada seseorang yang sedang lari-lari dikejar banyak orang. Rupanya ada copet. Dan ketika kami lihat apa yang dia bawa…Dua ekor bangkai kucing! Pencopet itu memegang dua bangkai itu dengan kedua tangan. Sementara massa di belakangnya terlihat sangat beringas. Ya, Alloh, apa lagi ini?!

Muak melihat kota, kami mengurungkan niat berkeliling lebih jauh. Kami ingin ke desa saja. Tempat yang lebih sejuk. Dan semoga masyarakat masih humanis.

Tiba kami di sebuah kampung. Tidak ada hamparan sawah. Hanya hutan lebat yang masih asri. Dan rumah berada di sela-sela hutan tersebut. Kami berhenti di sebuah tempat yang sepertinya memang sebuah tempat singgah khusus untuk turis.

Burung damai sekali bernyanyi bersahutan. Dan dahan-dahan pohon di sini cukup subur. Lebat. Sehingga sinar mentari yang masih cukup pagi hanya sesekali dapat menerobos. Bagai kilat dari langit yang menerobos bumi. Lurus dan tanpa kompromi.

Rumah Singgah di Tepi Hutan

Sejenak beristirahat, kami dikejutkan dengan suasana gaduh di belakang rumah singgah ini. Spontan saya bangkit, diikuti istri saya, untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada perkelahian. Terlihat dua orang membawa semacam parang, namun tanpa pegangan kayu, saling berhadapan. Mereka berteriak keras dalam bahasa mereka. Mata mereka melotot. Marah. Penuh kebencian.

Untung saja banyak orang di sekitar yang berusaha melerai perkelahian ini. Banyak perempuan di sekitarnya yang menangis menyaksikan hal ini. Saya mencoba mendekati salah satu dari mereka, dan mencoba menanyakan apa yang terjadi.

Setelah dijelaskan, saya baru sadar, di dekat TKP keributan ini, juga terhampar seekor Gajah. Yang rupanya sudah mati. Gajah ini merupakan peliharaan orang tua yang baru saja meninggal. Karena empunya meninggal, gajah juga dibunuh. Nah, kedua orang yang bertikai itu adalah saudara kandung, anak dari orang yang meninggal tersebut. Mereka berebut bangkai gajah itu. Masing-masing tidak mau mengalah dan menuntut bagian bangkai yang lebih besar.

Rebutan Warisan Bangkai Gajah

Saya mengelus dada. Terlebih setelah tahu, untuk apa mereka berebut bangkai. Yaitu, untuk makan mereka dan anak-anak mereka! Dengan persediaan bangkai gajah itu, mereka akan mempunyai stok bangkai makanan untuk satu tahun ke depan! Naudzu billahi min dzalik.

Merasa harus menengahi, saya memberanikan diri menarik perhatian warga yang sedang dalam suasana mencekam. Saya mengatakan, akan menunjukkan makanan yang jauh lebih enak dan sehat daripada bangkai. Semua mengerutkan kening. Di sini, bangkai adalah makanan paling enak yang dimakan turun menurun. Orang selalu bekerja keras agar bisa membeli bangkai. Anak-anak menuntut ilmu setinggi mungkin agar nantinya bisa mengumpulkan bangkai sebanyak mungkin untuk keluarganya. Apalagi kalau bangkai sudah disimpan lama, sehingga banyak belatung dan lalat. Dengan bau menyengat yang bisa tercium dalam radius ratusan meter. Itu merupakan bangkai paling mahal. Yang hanya bisa dinikmati beberapa golongan orang kaya di negeri ini.

Saya berbicara kepada istri, untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana memasak ayam bakar. Maka saya minta kepada warga disediakan ayam hidup. Meskipun heran, salah seorang warga berinisatif memberikan saya satu ayam betina hidup.

Kemudian saya minta ditunjukkan di mana dapur yang bisa dipakai. Setelah saya sembelih dengan lafadz Alloh, saya serahkan sepenuhnya kendali masak pada istri. Dalam dapur salah satu warga itulah, istri memasak masakan andalannya itu.

Warga yang jenuh menunggu mulai kasak-kusuk. Akhirnya istri selesai. Bau harum langsung tercium sampai luar. Begitu dihidangkan, warga mendekat antusias. Beberapa mencoba mencicipi. Kemudian tertegun seperti mencoba mencerna apa yang sedang dirasa lidahnya. Sejurus kemudian, senyumnya mengembang dan mengacungkan tinju ke udara dengan berteriak dalam bahasanya yang berarti “Lezaaat!”

Hal ini memicu lebih banyak warga yang mencoba. Beberapa ada yang langsung meludah dan memuntahkan yang dimakan. Tapi sedikit lebih banyak yang berekspresi senang. Mereka kemudian saling ribut berpendapat dan adu argumen. Entah tentang apa, tetapi kami rasa untuk memutuskan bagaimana rasa makanan ini.

Sampai kemudian ada yang berteriak marah dalam bahasa Inggris yang pas-pasan, “Aneh sekali kalian, makan daging yang belum jadi bangkai!”

Keadaan seketika kembali ribut. Beberapa orang yang tidak senang berhamburan ke arah kami. Saya panik. Beruntung, beberapa orang menahan orang yang marah tersebut untuk tidak memburu kami. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk segera menarik istri saya. Berlari menuju mobil. Tancap gas.

Sepanjang jalan kami beristighfar. Muka istri saya sudah pucat sekali. Dia menangis tanpa ekspresi. Saya pun demikian.

Setiba di hotel. Kami langsung sujud menghadapNya. Kami berpelukan erat. Menangis. Entah apa yang kami rasakan. Kami merasa terdampar di tempat aneh. Kelihatan indah. Padahal sebenarnya menyeramkan. Membuat muntah. Menjijikkan.

Kami berkemas. Segera memburu tiket tercepat untuk kembali ke kampung halaman…

SELESAI.

Notes: Cerita ini hanya fiksi, berdasarkan imajinasi. Namun, ada baiknya kita luangkan waktu membaca pesan tersirat cerita ini. Ternyata pemakan bangkai ada di sekitar kita. Atau jangan-jangan kita termasuk di antaranya? Semoga tidak.

Untuk kita renungkan:

#1 “Rasulullah SAW melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil terputus telinganya (cacat).
Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata: “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?”
Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”
Rasulullah SAW kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian (gratis)?”
“Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat. Apalagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka.
Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)

#2 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” . (QS. Al-Hujurat:12)

Bonus Gambar:

No Words Needed

sumber gambar: realadventures.com, foto.detik.com, sinarmawaddah.blogspot.com

[Abi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Negeri Pemakan Bangkai Itu Ada! (bag-2, selesai)

  1. farahzu says:

    ……….
    astaghfirullaah… na’udzubillaah…
    *komentar tepat setelah makan siang

  2. Ade Truna says:

    fiktif namun imajinatif, memuntahkan isi yang ada di kepala ke dalam tulisan yang sarat makna, hingga pada gambar terakhirpun mudah saja bagi saya untuk membayangkan cerita ini. Yuk kita interospeksi di mulai dari diri dan keluarga kita, —artikel yang dahsyat, trim’s.

  3. Astaghfirullaah….

    mengharukan di ahir ceritanya….
    mudah2an bisa mengambil hikmah dari cerita ini..

    trimakasiih..

  4. Ibnu says:

    bersyukurlah bagi kita yang masih bisa makan, sehari-hari

  5. Johar Manik says:

    TV Indonesia banyak menyajikan bangkai siap saji lho… .hati-hati, Ane udah berhenti lihat TV indonesia semenjak 2008, semoga masih kuat untuk seterusnya… .

  6. Adi Nugroho says:

    huahhhhhhh jijay,,,
    Ahahahha..

    Fiksinya kayak real..

  7. choirul says:

    semoga kita bisa menjaga diri kita dari makanan yang haram…. aamiin

  8. mauna says:

    Sampai akhir cerita saya masih berharap ini pengalaman sewaktu di mana yaa… . eh ternyata, fiktif… hehehe. Dan kita memang harus berhati2 terhadap apa yang kita makan. Apalagi yang tidak kita masak sendiri

  9. Asop says:

    MasyaAllah…. 😦
    *ngelus2 dada*

  10. itacasillas says:

    miris melihat gambar yang terakhir >,<

  11. sulit membayangkan bagaimana rasanya makan bangkai yang sudah dipenuhi belatung. huffh…

  12. dmilano says:

    Saleum
    Trus… bangkai gajah ntu dimakan lagi yak….??? wow….. keren
    saleum dmilano

  13. cium baunya aja dah mual dan bikin muntah, apalagi lihat bangkainya yang dipenuhi belatung merinding dibuatnya

  14. zulitaufik says:

    Saya coba ingat-ingat negeri mana yang penduduknya seperti itu, ternyata ini negeri entah berantah. Tulisan ini adalah sindiran halus buat kita semua. Saya suka gaya bahasanya, dan salam kenal …

  15. awan putih says:

    Kebalik td, baca #2 dulu baru #1…
    Jd penasaran bagaimana kalian pulang, hehe..perjalanan berangkatnya sj sedemikian heroik.
    NB: ditunggu cerita ttg Magelang

  16. *geleng-geleng kepala&*

  17. Agung Rangga says:

    ya ampun, saya mengabaikan peringatannya~
    *pingsan*

  18. Pingback: Penghargaan Untuk Sahabat1 « Batavusqu

  19. alinaun says:

    ya ampun, saya kira ini beneran 😀 ceritanya enak dibaca dan bagus 😀

  20. Panji Irfan says:

    Saya kasihan dengan nama negara yang dicantumkan pada ceritanya.

    • yang jelas itu bukan negara kejadiannya dalam cerita itu….cuma numpang lewat,,, tapi negeri yang dikunjungi tokoh di atas sama sekali tidak disebutkan ataupun dicantumkan…

  21. HARRY DION says:

    di angkat jadi film layar lebar bagus tuh, apalagi sutradara sama produsernya mel gibson….wuuuah ciamik….bisa masuk nominasi oscar kayanya…..saya doain….Insya Alloh….ga ada yang mustahi bagi-Nya….canibalisme aza sudah ada di pedalaman hutan AMAZON

  22. lina says:

    saya suka sekali.. sindiran ini nyata… smoga allah ampuni kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s