Kerja di Toko Sepatu Ya, Mas…?

Sabtu pagi itu, saya dan istri (Ummi Harestya) punya agenda untuk bertemu dengan beberapa teman, di daerah sekitar Bintaro. Ba’da dhuhur acara selesai, dan kami bersepakat untuk ngadem ke mall, dalam hal ini adalah BP, singkatan dari Bambang Pamungkas, Bintaro Plaza.

Bintaro Plaza

Tujuan utama adalah makan. Jadi begitu sampai tanpa basa-basi kami langsung mencari foodcourt. Sekali-kali boleh-lah makan di mall, untuk menyelingi makanan-makanan “biasa” yang terbiasa dicerna usus halus kami.

Singkat cerita, setelah makan, Ummi rupanya tertarik dengan salah satu toko pernak-pernik abg yang bernama salah satu nama buah. Karena di situ lumayan berdesak-desakan dengan para abg labil pemudi-pemudi, serta pemuda pengantar pemudi, maka saya lebih memilih menunggu Ummi_yang masih berdarah muda_dari luar toko.

Beberapa saat menunggu sambil memandang sekitar, ada seorang yang menegur. Seorang Bapak-bapak yang mengaku sedang menunggu anaknya yang mengikuti kompetisi menembak di Toys City. Entah beneran ada atau tidak kompetisi itu, saya tidak tertarik untuk mengoreknya. Yang jelas, bapak ini agresif sekali mendekati saya. Tinggal di mana mas? Ngapain di sini? Padahal waktu di kampung, hal ini wajar, tapi justru di kota individualis seperti ini, hal itu jadi tidak wajar.

Secara naluri, saya langsung waspada dengan orang asing yang seperti ini. Apalagi sekarang sedang marak laundry otak berkode N-11 dan sejenisnya. Akan tetapi, saya tetap menanggapi percakapan dengan santai dan bahkan sesekali membuatnya lebih hidup.

Sambil sesekali seakan menengok anaknya yang di Toys City, lagi-lagi orang itu kembali ke tempat saya berdiri. Terus mengobrol, mulai dari ngobrolin sekolah anaknya sampai ngobrolin jahatnya pemerintah dan bodohnya masyarakat.

Sampai kemudian Bapak itu bertanya, “Kerja di mana Mas?”
…belum sempat saya menjawab, Bapak itu sudah mencoba menebak…
“Kerja di pabrik ya, Mas?”

Err….mencoba mencerna kemudian mengaca diri sendiri. Tas di punggung, Jaket, Celana Bahan, Sepatu Gunung, HP Nokia Kotak…ehm…

Akhirnya Abi menjawab singkat, “Eh, enggak Pak. Saya kerja di sekitar Blok M.”

Si Bapak menanyakan semakin detail, mungkin berpikir apakah saya masih merupakan “sasaran potensial”. *mulai su’udzon sama si Bapak.
“Blok M di mana, Mas? Di toko sepatu, ya?”

Arrgggghhh…..pengen teriak,”Pak, saya aja pakai sendal, mana mampu jualan sepatu, nebak dong jualan sendal!”

Tapi saya urungkan. Akhirnya saya menjawab secara diplomatis,”Ya apa ajalah Pak. Tergantung perintah bos. Yang ada aja. Zaman sekarang kan cari kerja susah. Jadi kerjaan apapun jalanin aja.”

Bapaknya diam. Entah apa yang dipikirkan. Saya juga tidak tertarik menggalinya.

Sejurus kemudian Ummi nyamperin keluar buat ambil uang yang saya bawa. Setelah Ummi pergi, ganti Bapak tadi bertanya heran, “Itu istrinya, Mas?”

Mungkin Bapak itu heran bagaimana seorang penjual sepatu seperti saya bisa mendapat istri secantik Ummi. Hmm….^_^

Tapi kami malah bersyukur, bahwa dengan posisi kami sebagai Mahasiswa__yang hanya 18,4% dari total penduduk usia 19-24 tahun__, masih sering dianggap sebagai kebanyakan orang, yaitu sebagai pejuang hidup seperti pekerja pabrik ataupun penjual sepatu.

Bukan untuk mendiskreditkan dua profesi mulia itu. Justru kami senang, bisa dianggap seperti kebanyakan masyarakat. Sebagai pekerja pabrik dan penjual sepatu, kira-kira sudah mempunyai penghasilan melebihi penduduk miskin versi BPS, yaitu Rp211.726/bulan. Jumlah penduduk miskin ini hanya sekitar 13,33% (32 juta jiwa) dari total penduduk Indonesia. Atau tentu tidak juga termasuk golongan mapan 4 juta penduduk yang berpenghasilan 20 s.d. 40 juta per bulan. Juga bukan termasuk golongan menengah ke atas yang berjumlah sekitar 25 juta orang menurut BPS. Sisanya, yaitu 180,6 juta adalah yang lain (penduduk Indonesia 237,6 juta). Golongan rata-rata. Dan kami bersyukur bersama golongan lain yang terbesar itu.

Sebab, sebagai golongan rata-rata, setidaknya sudah menempati posisi ideal (garis di titik z) dalam kurva distribusi normal. Artinya, dalam posisi inilah kita dapat meringankan tugas pemerintah meminimalisasi gap ekonomi yang selalu menjadi PR dari dulu hingga kini.

Normal Distribution Curve

Apakah tidak ingin ke golongan kanan yang kaya? Tentu. Agama kami mengajarkan demikian. Hanya, semoga Alloh memberikannya di saat yang tepat. Karena itu tidak lebih dari sebuah cobaan. Semoga dengan berada di golongan sebelah kanan kurva, kita tidak membuat masalah gap ekonomi semakin buruk. Semoga jika kita nanti kaya, dan sekarang bagi orang-orang yang sudah kaya, justru bisa menarik golongan sebelah kiri kurva, sehingga secara keseluruhan menarik garis normal z ke tempat yang lebih ke kanan. Yang artinya adalah, kita kaya tidak sendiri, tetapi mengajak yang lain, sehingga dapat mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Serta terwujudnya sila ke-5 Pancasila. (Gimana hayoo…bunyinya??)

Sumber gambar: shavaat.wordpress.com, riyadinal.blogspot.com

[Abi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

63 Responses to Kerja di Toko Sepatu Ya, Mas…?

  1. mauna says:

    wah… saya pernah 2 kali ke BP… . sepertinya gak banyak berubah dari 9 tahun lalu ya… .
    Kebanyakan orang menilai dari penampilan… .

  2. monda says:

    he..he… terus bagaimana kelanjutan dengan bapak cerewet itu?

  3. Rizky says:

    wah menginsfirasi

  4. Adi Nugroho says:

    widiw kurva normal.. Brasa lagi kuliah statistik deh..

  5. temannya Abi says:

    ini cuci otak pasti,… ceritanya ngalor ngidul, pasti ujung-ujungnya ada sesuatunya,.. *curiga

  6. Asop says:

    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. 🙂

  7. Saya lebih sering ditebak…. “kuliah di mana, Mbak?” atau ” Mahasiswi Udayana, ya? ” , ya y ay ay ya ya…saya mengerti,….akhirnya di lainwaktu saya datang dengan sepatu hak tinggi dan baju kebangsaan ngantor….denagn bangga saya bilang”saya udah gak kuliah lho…” he he he

  8. Ade Truna says:

    bbrp thn ini jarang bahkan sama sekali tdk ada yg tanya, ‘kuliah dimana, mas?’
    *Semenjak ukuran pinggang celana berubah drastis…

  9. kalau saya sering ngalamin pertanyaan, “istrinya ga ikut mas, ko sendirian aja”.. huwaaahh,,, tuwa banget apa muka saya…. hihihi

  10. eka felira says:

    Jadi sebenernya kerja di mana dong abinya? :p

  11. Johar Manik says:

    Coba Ane tanya… .Kuliahnya di STAN ya Mas, maennya kok ke BP… .

  12. bundamahes says:

    errrrrrrrr…. 🙄

    *komen junk

  13. joe says:

    saya malah pernah membawa koran, majalah dan tabloid sekaligus, sehingga dikira orang jualan koran he he…

  14. prettong says:

    pesen sepatunya ya mas pantofel ukuran 41 😛

  15. phoenix says:

    pengenya masuk dalam data yg py Deviasi terbesar a.k. “golongan Mapan” 🙂

  16. sedjatee says:

    PAK…
    saya sekantor sama si Abi
    SUMPAH dia bukan kerja di toko sepatu…

    sedj

  17. reedai313 says:

    ya, bukannya su’udzon..
    kayaknya bapaknya itu melihat..
    sesuatu yang amat ‘sepatu’ pada diri ente…
    :D…
    apakah itu?
    kayaknya jawaban “BLOK M” ente tadi..
    hehe..

  18. Agung Rangga says:

    humm…
    Jadi pengen ke Bintaro Plaza lagi nih… 😳

    Salam kenal kak… 🙂

  19. aduh duh… segitunya? ^__^ hihihi
    shock juga nemu grafik dibawah itu.. lemah statistika, hihihi

    Oh yah, salam perkenalan sebelumnya. ^_^
    semoga kita bertemu lagi… ^_^
    Anda ada di link roll saya, pasti kembali lagi ^^
    salam persahabatan ^^

  20. wah..pasti tampilannya mas iwan masih mirip mahasiswa STAN ya?

    no offense loh. 🙂

  21. dhila13 says:

    waah udah lama ga ke BP. udah lama juga ga ke UIN.. :mrgreen:

  22. Penghuni 60 says:

    hehe, ceritanya seru jg ya…
    🙂

  23. omiyan says:

    aduh tuh lihat fhoto jadi punya kenangan 12 tahun lalu ketika masih kuliah di kampus plat merah deket-deket situ

  24. bungatijo says:

    lhah…, si bapak tadi kerjanya dimana?
    ko ceritanya jadi nge-gantung begini?

  25. Alam says:

    terus bapaknya itu gimana….

  26. Kaget says:

    Penampilan menentukan ya.
    Malah saya sering ditanya “Mau benerin saluran air sebelah mana, mas?” 😆

  27. pada akhirnya bukan sekadar bercerita saja, hehe… ini semacam kreatifitas beropini, mungkin.

  28. hihi…apakah itu pertanda baik?

  29. kangpandoe says:

    Alhamdulillah PERTANDA BAIK karena masih sempat Nge-Blog dan masih sempat jalan-jalan ke Bintaro Plaza, Insya Alloh masih sempat meluangkan waktu untuk FOSMA juga… Amiiin Insya Alloh

  30. Karyaku UMY says:

    hehe,,,bpk2 tdi mngkin merasa drinya btuh tman ngbrooll..hehehehe

  31. opathebat says:

    saya waktu itu mau ke lokasi kerja, mampir beli es cincau trus ditanya : Sales ya mbak? -__-“. Oh juga sering dikira asisten rumah tangga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s