Tentang Perjuangan Hidup

Ada seorang perempuan yang saya kenal sangat dekat, perempuan yang mengajarkan tentang “perkelahian”. Tentang “perjuangan”. Konotasi maupun denotasi.

Sejak usia 1 tahun, setiap siang saya tinggal di rumah dengan “Mbak” yang ngurus rumah. Atau kalau si Mbak lagi mudik saya “dititipkan” di rumah tante atau bahkan tetangga. Kala dititipkan itu, saya sering sekali rindu dengan rumah, sampai menangis saat ditelepon. Berharap sore ini saya dijemput. Tapi seminggu kemudian, pada hari Jumat, barulah saya dibawa pulang.
.
Ketika TK, karena Ibu masih bekerja, tak jarang ketika pulang sekolah saya sendirian. Teman lain dijemput dan saya malas menunggu si Mbak menjemput. Lama.
Untuk pulang saya harus melewati dua jalan raya dan dua komplek. Terkadang saya dijahili teman. Kadang dijorokin dari perosotan, dikejar-kejar…dan reaksi saya?
SAYA BALAS SEMAMPU SAYA!

Pendaki Hidup

TK, gigi saya harus dicabut, dan Ibu mengantar perawatan gigi ke RSCM. Perawatan gigi dimulai jam 8, kemudian Ibu meninggalkan saya untuk ke kantor. Jam 10 seharusnya dijemput untuk ke kantor Ibu. Jam 10, jam 11, jam 12, Ibu belum datang. Saya pulang saja sendiri ke kantor ibu saya jalan kaki! Saya sampai kantor ibu pingsan! (Ternyata Ibu telepon ke dokternya untuk bilang telat jemput dan kata dokternya saya udah gak ada,,, iya lo.. mantep ga tuh…)
.
SD, keadaan financial keluarga saya agak oleng karena kantor tempat Ayah kerja pailit. Saya jajan Rp. 100 seharian dan harus mengumpulkan uang berminggu-minggu agar bisa beli raket seharga Rp. 5000 untuk tes olahraga. Di SD saya sangat nakal, berkali-kali masuk ruang Kepsek karena mukulin anak orang, ngehasut 1 kelas buat bolos, berantem sama SD lain (siliwangi). Akan tetapi, tidak pernah ada kata-kata “dikeluarin” karena saya murid teladan waktu SD, (percaya ga percaya ^_^)
.
SMP, saya daratkan bogem mentah dan tendangan ke pipi cowok yang nge-hina saya. Dan, yah… masuk BP. Yang saya ingat ketika itu adalah kata-kata Ibu
“Kalau dijahatin lawan sekuat-kuatnya! Kalau gak berani, lari, tapi jangan pernah pulang sambil nangis!”
Saya sering ambil opsi pertama.
.
SMA, saya terlibat candu organisasi, berputar dalam warna hijau, dekat dengan kalangan orang shalih. Ibu adalah orang pertama yang langsung mensupport untuk segalanya. Masak gratis untuk panitia sebuah acara. Bayarin semua dauroh saya. Bujukin Ayah buat izinin saya pergi ke mana saja ada dauroh. Telepon tiap jam 7 malam (batas paling malam di luar rumah) “NURUL…JAM BERAPA NI..?!.”
.
Namun, saya sempat mengalami fase hubungan terburuk dengan ibu ketika SMP. Berantem setiap hari. Pilihannya hanya dua: Saya atau Ibu Saya yang akhirnya menangis.
.
Saya pernah bercerita tentang kehebatan A yang pinter banget, B yang ceria, C yang tajir abis, D yang pinter organisasi, E yang cantik banget, F yang lembut banget, dan apa yang dijawab Ibu?
“Buat Ibu kamu semuanya”
.
…tes… tes…[gerimis].
ada sesuatu yang saya rasakan entah apa…
.
Hmmh… waktu saya sangat panjang bersamanya,,,
Ibu  kini,,, lemah dan masih berjuang untuk kankernya sejak 3 tahunan lalu.
Saya kembali  teringat, malam itu Ibu SMS di tengah sakit yang beliau rasakan, di kamarnya Ibu ketik sms:
“Untuk kehidupan… Berani? Lawan sekuat2nya. Kalau gak berani? Boleh kok lari, tapi jangan pernah pulang sambil nangis. Maafin Ibu ya kalo selama sakit ngerepotin Nurul”
.
Saya…speechless…

Sayang yang tak mungkin terbalas

Ibu buat saya adalah lembaran yang terbuka, sangat tak ada misteri..
Ibu saya… segalanya…
Bila masih banyak waktu saya untuknya,,, akan saya habiskan waktu saya bersamanya.
.
_nurul ainul mardiyah_
(nama ini pun Ibu saya yang memberikan)
.
sumber gambar: stevaniabb.blogspot.com, iinmorero.blogspot.com
[Ummi]
Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Tentang Perjuangan Hidup

  1. nita says:

    Aku bisa rasain apa yg mbk.Nurul rasain Wan,,,,
    Sama Ibuku juga berjuang melawan kangker hampir 6 thn,,,, waktu itu ak juga selalu berusaha memberikan apa yg Ibu pengen,,, ngebuat Ibu seneng merupakan hal yg paling indah buatku,,, sayangnya Allah ngambil Ibu 2 bln yg lalu,,,sebelum aku bisa wujudin semua cita2nya,,, Tapi ak janji akan trs berjuang wujudin cita2 Ibu,,,
    Hummm,,,, Salam yah buat Mbk.Nurul…. Moga Ibunda beliau segera diberi kesembuahan oleh Allah,,, amin,,,

    • salam kenal mbak nita… ini tulisan di blog lama, jadi sampai sekarang ibu sudah lebih baik kondisinya, alhamdulillaah.. sekitar 5 tahun ibu jd survivor kanker.. saling mendoakan orangtua kita ya mbak.. semoga selalu bisa berbakti..

  2. prettong says:

    saya suka tulisan mbak nurul…iya mbak, ibu memang pejuang yang paling hebat di hidup kita…selama beliau masih “sugeng” (kalo ga tau artinya tanya sama iwan yan 🙂 ) sebisa mungkin kita harus membahagiakan beliau…
    Salam buat ibu ya mba nurul, semoga Allah selalu menyayangi dan melindungi beliau, amiiin… 😉

  3. jundi313 says:

    Mama…
    yang terpenting adalah membuatnya ‘bahagia’..
    Uda jadi kangen mama di bengkulu nih..
    renungan yang bagus…

  4. wah kebersamaan bersama ortu yang membahagiakan dan sarat dengan pendidikan.
    =================
    penjarakan TV anda atau….

  5. popi says:

    ceritanya mengharu biru Mbak! pesan Ibu nya bikin semangat dan berani melawan yang nakal ya? good job! Semoga Ibunya segera pulih kembali…

  6. farahzu says:

    “F yang lembut banget,”

    maaci, nurul… 😀
    ya, ya, nurul kayak gini pasti ada ibu hebat yang menjadikannya segala… smoga ibu sehat-sehat selalu…

  7. sedjatee says:

    hiks.. the unforgettable stories…

    sedj

  8. giewahyudi says:

    Setiap Ibu punya perjuangannya sendiri..
    Dan saya selalu menaruh rasa hormat yang sangat..

  9. kalau ada teman yang nakal memang harus dilawan sekuat tenaga. ini penting untuk membangun harga diri anak, supaya teman yang nakal itu berhenti meluconi.

    ah, kasih sayang ibu memang tak tergantikan. tiada dua. tanpa pamrih.

  10. o ya, kemarin-kemarin aku ngasih komen di sini, dan kalo nggak salah aku manggilnya ‘pak’ ke tuan rumah. aduh, ternyata salah ya. bukan pak, tapi bu.

    • iya, sebenarnya kalo dipikir saat ini, jadi abstrak siapa yang nakal duluan, tapi karena ini tulisan saya, maka yang nakal pasti bukan saya.. panggil pak juga boleh, ibu juga boleh, karena ini blog kami berdua pak.. ^^

  11. Batavusqu says:

    Salam Takzim
    Salutttt, tapi masih sempat blogging kan dan blog walking tentunya
    Salam takzim Batavusqu

  12. Pingback: Award award itu begitu menggoda « Batavusqu

  13. dheeasy says:

    dan masa yang paling tidak suka dalam hidup saya, jika Ummi saya terkapar tak berdaya dengan penyakit yang dideritanya… Tak mampu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s