Sederhana Itu…

Bukan pada bunga, namun ilalang-nya

Sederhana itu…
Mengingat bahwa cerita bersambung amat populer di Indonesia, maka saya buat tulisan ini berfragmen-fragmen. Monggo dinikmati…
Fragmen 1.
Dulu, waktu saya TK, sering banget terlibat pembicaraan anak-anak,
“Rumah kamu tingkat, nggak?”
Saya jawab aja “Iya tingkat…”
Untuk menjelaskan bahwa rumah yang kami huni berlantai dua, padahal cuma lantai dua yang isinya kamar sama tempat jemur pakaian.
“Ooh.. kamu orang kaya ya?”
Heu? Bingung lah saya…Orang kaya itu seperti apa ya? Pertanyaan saya gulirkan kepada ibu (kata ganti nenek bagi Harestya Junior..wuih..ribet amat^_^) tentang percakapan itu, ibu ketawa dan hanya mengatakan, “Bilang aja Nurul hidup sederhana.”
Itu kalimat tentang “sederhana” yang saya dengar dan ingat pertama kali.
.
Fragmen 2.
Terjadi ketika tengah membuka blog seorang ikhwan sebuah kampus lain (*ketauan suka ngintip). Title blog-nya “Sederhana tapi Bahagia”. Hmm…menarik. Setidaknya itu “sederhana” yang juga cukup melekat di otak saya, bukan karena si empunya blog tapi konten dari blog nya.. ;p
.
Fragmen 3
Siang itu, setelah menjelajahi jakarta berbekal IPK cukup dari Universitas untuk melamar kerja, keringetan, dekil tersapa knalpot kopaja, dengan ditemenin seorang mbak yang ternyata punya niatan masukin saya jadi agen asuransi dan agen forex *phewh~~, diajaklah saya mampir ke Rumah Makan Padang “Sederhana”. Sekali lagi kata itu cukup melekat di otak saya, selekat bumbu rendang yang saya kunyah dengan buas karena lapar.
.
Saya punya definisi tersendiri tentang kata sederhana ini. Bagi saya, sederhana itu mensyukuri dan gak neko-neko. Maka, waktu taáruf dulu dengan si mas ganteng, yang saya tekankan adalah hal ini. Dan ternyata kita sepakat.
Sisi positifnya adalah, saya gak pernah ngoyo untuk menjangkau segala sesuatu yang saya tahu gak mampu saya raih. Sifat saya yang mudah mutung membuat perasaan saya cukup terlindungi dengan sikap hidup ini.
Sisi negatifnya, saya terlalu menikmati hidup seperti air, hmm. Oleh karena itu, saya gak pernah punya keinginan berprestasi yang luar biasa. Saya menikmati saja posisi di rangking 3 selama sekolah, tanpa punya keinginan jadi rangking 1. Gak pernah punya keinginan kuliah di luar negeri. Seperti yang pernah saya bahas, cita-cita saya sederhana… Ingin sekolah, kuliah, kerja, nikah, hamil, punya anak, ngurus anak, kalau mungkin sambil kerja dan mendampingi Abi seumur hidup.
Dan semua itu dikabulkan Alloh SWT dengan diberikan seseorang yang benar–benar melengkapi hidup saya… *thanks ya dear.., Ketika Pangeran saya menggamit lengan saya, meminta langkah dipercepat, saya yang sesekali malas terkadang lambat merespon. Jadilah riak itu mewarnai kami. Tetapi sekali lagi, keinginan sederhana kami untuk membuat hidup kami nyaman dengan kehadiran satu sama lain, membuat kami tak kuasa lama berdiam. Sejatinya kami sama. Maka diskusi selalu berhasil menengahi putaran speedo berapa yang kami ingini.
Saya tak pernah takut bahwa dengan kesederhanaan ini, saya tak bisa jauh melangkah. Saya berniat menikmati perjalanan hidup perlahan saja, melihat sekeliling, menapak satu-satu. Biar saja semua berlari, saya menikmati udara di sini… di kesederhanaan ini…
Maka ketika suatu kajian kampus kami hadiri bersama, ustadznya meminta menuliskan cita-cita… Saya hanya menggores beberapa kalimat: “Jadi istri shalihat, ibu yang teladan, dan anak yang bermanfaat.”

Sederhana ya? ^_^

Bahagia bersama belahan jiwa

sumber gambar: taufik79.wordpress.com

[ummi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Sederhana Itu…

  1. farahzu says:

    entah nyambung atau ngga, tapi nasihatmu sangat melekat dan bermanfaat buat aku rul,
    “jangan beli kalo lagi kepengen”
    😀

    maacih yaaa…

  2. reedai313 says:

    komen sederhana saja, “like this”…

  3. farah : aku aja masih sering beli klo pengen -_____-”

    uda riki : komen sederhana balasan : terimakasih

  4. bundamahes says:

    sederhana, tapi untuk mewujudkannya membutuhkan usaha yang luar biasa ^_^

  5. mrs harestya : @ bundamahes, iyaaaa mbak.. heeeeuuuuhhh.. *take a deep breath

  6. “Jadi istri shalihat, ibu yang teladan, dan anak yang bermanfaat.”..
    hanya tampak sederhana, tapi membawa konsekuensi usaha yang tak sesederhana susunan kata-katanya

  7. salam kenal mba…karakternya persiss sama saya..bedanya saya belum punya pendamping yang bisa diajak diskusi kalau lagi kepengen beli2…rata2 yang saya kepengin malah ga kepake..sama ga ya? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s