[Repackage] Simbah Terakhir

Kisah ini hanyalah fiksi. Terinsipirasi oleh Nenek saya dari pihak ibu. Diberi judul “Simbah Terakhir” karena memang Mbah Putri ini adalah simbah terakhir dari empat simbah yang saya miliki. (saya punya 2 ortu, 2 ortu punya 2 ortu lagi, 2×2= 4, sempat tidak sempat harus dibalas, halah!). Dua simbah dari pihak Bapak tidak pernah saya lihat. Sedang dari pihak ibu, saya menangi (jawa: pernah hidup dalam masa yang sama, pernah bertemu sewaktu hidup) dua-duanya. Tapi bagaimanapun, memang ternyata saya tidak benar-benar memiliki apapun di dunia ini. Jadinya, semua harus ikhlas ketika Simbah Terakhir ini diambil kembali oleh Pemilik Sebenarnya.

Sedikit bernostalgia tulisan dari rumah lama, inilah fiksi tentang simbah:

……………………….

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Seorang anak kecil sedang bermain di atas Vespa ayahnya. Seperti kebiasaan yang dilakukan di rumah. Setiap hari. Dan semua baik-baik saja. Tapi saat ini, seseorang datang menegurnya dengan galak, “E…e…e..ojo dolanan ning kono, ndene wae! Ayo, mengko tibo kowe.

Anak kecil yang tidak habis pikir itu tetap tak bergeming. Hingga kemudian Sang Nenek turun dari beranda rumahnya yang cukup tinggi itu. Menurunkan Sang Cucu yang masih terlihat kesal. Satu karena bentakannya. Dua karena kesenangannya terpasung.

Dengan langkah gontai dihampirilah ibunya.

Bu, mbah putri galak…aku diseneni” anak itu mengadu.
“Yo wis rapopo. Simbah ki pancen ngono kuwi. Ora galak, ning wedhi nek kowe tibo…trus loro…trus mlebu rumah sakit..piye jal?” sang Ibu berusaha menetralisir keadaan.

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Dua hari ini anak kecil tersebut dan kedua orang tuanya menginap di rumah Sang Nenek. Dan saat ini mereka sudah akan berpamitan pulang.

Mbah, kula pamit ndhisik nggih” kata Sang Cucu dengan bahasa jawa krama yang masih level 1.
O kosek le…” Nenek itu setengah berlari masuk ke kamarnya. Diberikanlah plastik putih kecil yang berisi beberapa uang logam. Dan telah diikat sempurna.

Tanpa menghitung pun Sang Cucu tahu, jumlahnya ada sepuluh. Selalu begitu. Tidak kurang, tidak lebih. Ending yang selalu memberi kesimpulan bahwa kunjungan ke rumah nenek selalu menyenangkan. Anak kecil itu tak kan pernah ingat lagi bentakan Sang Nenek. Karena sepuluh uang logam itu sudah di tangannya.

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Sabtu pagi, 27 Mei 2006, berita di TV menghenyak Pemuda Pas-pasan itu di kosnya. Segera dia mengambil HPnya. Sebuah kontak yang diberi nama “HomeSweetHome” ditekannya.
Bu, pripun?
Nek ngomah rapopo, le. Ming sempat goyang-goyang ngono.
Trus Simbah pripun?”, nada bicara Pemuda Pas-pasan itu terdengar panik.
“Lha iki yo gek arep mrana, muga-muga wae rapopo. Teko dongakke wae”, Sang Ibu di seberang sana tidak mau kalah paniknya.

Akhirnya semua jelas, korban jiwa Alhamdulillah tidak ada dari pihak keluarganya. Simbah Putri yang memang sudah ditinggal lebih dulu oleh Simbah kakung juga baik-baik saja. Hanya memang separuh rumahnya roboh. Dan separuhnya lagi hampir roboh, jadi akan segera dirobohkan karena terlalu berisiko.

Menunggu bantuan yang dijanjikan pemerintah memang tidak bisa secepat kilat. Bisa berbulan-bulan sampai tahunan. Tentu tidak mungkin menggelandang dahulu dalam waktu selama itu. Apalagi bagi Nenek itu. Akhirnya diputuskan Simbah akan tinggal di tempat anaknya sementara waktu. Di rumah orang tua Pemuda Pas-pasan itu. Untuk pertama kalinya Sang Nenek meninggalkan rumahnya. Rumah yang dibangun sendiri. Dan tanah seluas itu yang dibeli dengan hasil keringat sendiri juga seharga Rp 30.000. Entah pada tahun kapan.

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Setelah beberapa waktu Sang Nenek kembali, ke tempat anaknya yang lain. Si Pemuda Pas-pasan sowan ke sana.
Pripun Mbah kabaripun?” Pemuda itu membuka percakapan.
Yo apik Le, kowe yo tak dongakke muga-muga kasil le sekolah. Enthuk bojo sing apik. Diijabahi karo Sing Kuoso.”
“Amin…Mbah.”
“Lha saiki ki kowe wis kelas piro?”
 Sang Nenek balik bertanya.
“Kula pun boten sekolah Mbah, sakniki pun kuliah.”
“O…wis kuliah to, jupuk jurusan opo? Insinyur po kedokteran?”
“Kulo mendhet akuntansi Mbah.”
“Akuntansi ki bangsane opo kuwi?”
“Akuntansi niku nggeh istilahe…ekonomi, Mbah.”

“O..ekonomi, yo apik kuwi. Kabeh ilmu ki apik muga-muga kasil.”
“Amin, Mbah”
“Sesuk nek wis kerjo Simbah dikabari yo. Ben Simbah lego. Sesuk Simbah dijak ning gonmu yo”
“Nggih Mbah”

Hening sejenak, sebelum Sang Nenek mulai melontarkan pertanyaan lagi kepada cucunya, “Lha kowe ki saiki kelas piro Le?”
“Kula pun kuliah sakniki Mbah,” jawab Pemuda Pas-pasan itu.
“O, jurusan opo le?”
Sang Cucu tahu beberapa menit lalu neneknya sudah menanyakan hal itu, tetapi tetap dijawabnya juga,”Akuntansi Mbah, ekonomi…”
“O…yo wis tansah tak dongake kowe Le. Pokoke rasah melu-melu koncomu liyane sing ming dolan terus. Dadi uwong kuwi kudu prihatin. Sing do dolan yo ben. Sing do males-malesan yo ben. Ning kowe kudu nduwe tekad. Kudu sregep. Rasah melu liya-liyane.”
Nggih Mbah. Wau Simbah sampun tanglet kula kelas pinten kok tangle malih?”
Simbah itu tertawa renyah. Sehingga membuat Sang Cucu juga ikut tertawa.
“Lah simbah ki wis tuo to Le. Yo, lumrah.”
“Simbah niku yuswanipun pinten to?”
“Wah wis okeh. Wis angel ditung. Satus punjul tak kiro”

Setengah tak percaya, Sang Cucu tetap tersenyum. Simbah memang sudah sepuh.
“Lha kowe ki saiki kelas piro Le…?
…………………………………..

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Ketika mengetahui bahwa Sang Ibu berkunjung ke rumah Nenek, Pemuda Pas-pasan itu segera mengambil HPnya. Rasa kangen kepada neneknya sudah tidak tertahankan. Meskipun tidak bersua, setidaknya suara khas itu akan sedikit melegakan hatinya.
“Assalamualaikum Mbah…Halo…halo…”
Yang terdengar malah tertawa renyah Simbah yang seperti sedang berdiskusi dengan Ibunya mengenai apa fungsi telepon genggam itu.
“Simbah?” Sang Pemuda Pas-pasan berusaha membuka percakapan.
HP di sana terdengar di-setting Loudspeaker. Sehingga terdengar saat Sang Ibu menerjemahkan kepada Sang Nenek apa yang Pemuda itu katakan. Meskipun yang memegang HP adalah Nenek.
“Iyo Le…piye kabare?” sang Nenek tertawa renyah. Yang mungkin bisa diartikan sebagai wujud rasa terima kasihnya kepada Graham Bell.
“Sae Mbah. Simbah pripun?”
Setelah diterjemahkan oleh sang Ibu, Sang Nenek menjawab,” Yo apik. Kowe tansah tak dongakke Le.”
“Nggih Mbah matur suwun. Kula sakniki sampun kerjo Mbah. Kuliahipun sampun lulus.”
“Ngomong opo iki,”
 tanya nenek pada Ibu. Sejurus kemudian, Sang Nenek kembali menjawab pertanyaan Pemuda Pas-pasan, “O yo Le. Simbah melu bungah. Mugo-mugo diijabahi karo Gusti Alloh. Sesuk nek wis nduwe papan, Simbah dijak ning gonmu yo gelem Le.”
“Nggih Mbah, matur suwun.”
“Lha kowe ki saiki kelas piro Le?”

………………………………….

Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.

Pagi-pagi. 16 Mei 2009. Hanya dua minggu semenjak obrolan via telepon dengan Sang Nenek.
Terlihat dalam layar HP Pemuda Pas-pasan : “HomeSweetHome calling”.
Simbah sedho…” suara di seberang sana terdengar tak tertahankan. Begitu juga dengan perasaan Sang Pemuda Pas-pasan.

sumber gambar: sandiviergo.wordpress.com

Selamat Jalan Simbah. Doaku untukmu,

——Just a fiction. Tribute to my last grandma. (unknown – 16/5/09)

[abi]

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to [Repackage] Simbah Terakhir

  1. reza says:

    aku nderes eluuuhh,,,, brebes mili aku mas moco iki….. aku kelingan simbahku yg udah tiada….. T.T

  2. prettong says:

    aku juga punya embah terakhir yang tinggal lamaaaa banget di rumahku (dari ak kelas 4 sd-kuliah semester akhir) gara2 kasian ibuku udah sendiri ditinggal bapak. sampai saat terakhir beliau niatnya adalah menjaga ibuku dan anak2nya termasuk aku, walaupun eyang udah gabisa apa2…hee jadi sediih…iya cuma doa yang bisa aku sampaikan…semoga eyang di sana selalu disayang Allah…amiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s