Cangkir kopi yang beradu punya iramanya
Terdengar oleh telinga yang lama tak mendengar suara
Ia berimaji seolah getrukan nya adalah sebuah lagu dalam pentas panggung
Busanya menghilang satu-satu
Terlihat oleh mata yang lama tak melihat ada gelembung warna
Selamanya hitam, biar saja…
Tapi kali ini gelembungnya serupa jingga entah dari mana
Kopi selalu punya chemistry antara arah dan jalur dua hati
Berjarak tapi dekat
Dekat namun tak terkira jauhnya
Dan kopi selalu punya akhir tak bahagia
Hilang saripati, lalu larut dalam pusaran…
[Ummi 2010]



